📝 Namanya Memang “Abstrak”, Tapi Isinya Jangan Sampai Abstrak (Susah Dipahami)!
Abstrak adalah etalase dari keseluruhan naskah penelitian Anda. Dosen, reviewer jurnal, atau pembaca akan memutuskan apakah naskah Anda layak dibaca lebih lanjut hanya dari abstrak. Jadi, jangan biarkan isinya samar dan sulit dicerna!
Abstrak yang baik terletak di awal naskah dan berfungsi untuk meringkas keseluruhan isi laporan penelitian (dari Bab 1 sampai Bab 5) secara cepat. Umumnya, abstrak ditulis dalam satu paragraf penuh tanpa alinea baru dan memiliki batasan kata antara 150-250 kata, tergantung gaya selingkung jurnal/kampus.
3 Mazhab Teknik Menyusun Abstrak yang Efektif
Meskipun harus ringkas, abstrak harus memuat komponen utama yang menceritakan keseluruhan riset Anda. Terdapat beberapa teknik (atau yang Anda sebut ‘mazhab’) penyusunan abstrak:
✅ Mazhab Pertama: The Classic Five (Lengkap)
Teknik ini paling lengkap, ideal untuk skripsi/tesis yang perlu mencantumkan saran:
- Latar Belakang/Masalah: Mengapa penelitian ini penting?
- Tujuan Penelitian: Apa yang ingin dicapai?
- Metode: Bagaimana penelitian dilakukan (desain, subjek, analisis)?
- Hasil: Apa temuan kunci yang didapatkan?
- Saran untuk Penelitian Selanjutnya: Arah riset lanjutan (khusus format yang sangat detail).
✅ Mazhab Kedua: The Core Review (Berorientasi Dampak)
Mazhab ini menekankan pada temuan dan kontribusi riset, sangat cocok untuk artikel jurnal yang fokus pada hasil:
- Tujuan Penelitian: Apa yang diteliti?
- Metode: Bagaimana dilakukan?
- Ulasan Hasil/Temuan: Apa hasil utamanya?
- Dampak dari Temuan tersebut (Implikasi/Kontribusi): Apa makna praktis/teoritis dari hasil tersebut?
✅ Mazhab Ketiga: The Minimalist (Ringkas)
Teknik ini paling ringkas, sering digunakan oleh jurnal dengan batasan kata yang sangat ketat:
- Latar Belakang/Masalah: Mengapa Anda meneliti ini?
- Metode: Bagaimana Anda melakukannya?
- Hasil Penelitian: Apa yang Anda temukan?
Ketiga mazhab ini memiliki tujuan yang sama: menarik dan informatif. Perbedaan terletak pada seberapa detail Anda menjelaskan latar belakang dan implikasi.
Saya pribadi juga cenderung menganut Mazhab Kedua karena berhasil menonjolkan temuan dan dampak—poin krusial yang dicari oleh editor jurnal.
Bagaimana dengan kamu? Mazhab mana yang paling sering kamu gunakan dalam menulis abstrak? Jangan lupa simpan dan bagikan, jika bermanfaat!
