Halo rekan-rekan dosen, akademisi, dan mahasiswa pejuang riset!
Diskusi ini sangat menarik dan relevan. Mengapa frasa “Untuk mengetahui…” seolah menjadi mantra wajib yang diwariskan dalam merumuskan Tujuan Penelitian?
Jawabannya terletak pada faktor sejarah, keamanan, dan generalisasi. Namun, jika kita ingin riset kita lebih berdampak, inilah saatnya meninggalkan zona nyaman tersebut!
🧐 Kenapa “Untuk Mengetahui…” Begitu Populer?
- Sifat General dan Aman: Kata “mengetahui” bersifat sangat umum dan bisa mencakup hampir semua kegiatan riset (deskriptif, asosiatif, komparatif). Penguji, pembimbing, dan pembaca tidak akan pernah menyalahkan frasa ini karena maknanya sangat luas.
- Tradisi Institusional: Banyak buku panduan penulisan atau pedoman skripsi/tesis di kampus (bahkan yang terbaru) masih mencantumkan kata ini sebagai contoh utama. Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana dosen pembimbing cenderung meminta hal yang sama dari mahasiswanya.
- Memudahkan Peneliti Pemula: Bagi mahasiswa S1 yang baru memulai riset, menggunakan “mengetahui” terasa paling mudah karena tidak menuntut pemahaman mendalam tentang jenis-jenis Kata Kerja Operasional (KKO) sesuai Taksonomi Bloom.
🚀 Mengapa Kita Harus Beralih ke KKO yang Lebih Spesifik?
Keputusan Anda untuk mengarahkan mahasiswa ke KKO yang lebih bervariasi adalah langkah yang tepat karena beberapa alasan krusial:
1. Mempertajam Jenis Riset (Eksplisitasi Metodologi)
Tujuan penelitian adalah kompas yang menunjukkan jenis penelitian apa yang Anda lakukan dan hasil seperti apa yang Anda harapkan.
| Jika Anda Ingin… | Gunakan Kata Kerja Aktif | Gunakan Kata Pasif (Alternatif) | Jenis Riset yang Tersirat |
| Menggali Fenomena Baru | Menggali, Mengidentifikasi, Mendeskripsikan | Agar dapat diungkap, Agar dapat diketahui | Deskriptif, Eksploratif (Kualitatif) |
| Menjelaskan Sebab-Akibat | Menganalisis, Menguji, Membuktikan, Menjelaskan | Agar dapat dianalisis, Agar dapat dibuktikan | Kausalitas, Verifikatif (Kuantitatif) |
| Membuat Sesuatu yang Baru | Merancang, Mengembangkan, Menciptakan | Agar dapat dihasilkan, Agar dapat diciptakan | Pengembangan (R&D, Action Research) |
| Menilai Kualitas Sesuatu | Mengevaluasi, Menilai, Mengkaji | Agar dapat dievaluasi, Agar dapat dinilai | Evaluatif |
2. Mendorong Berpikir Kritis & Spesifik
Ketika mahasiswa dipaksa memilih antara “Menganalisis”, “Membandingkan”, atau “Mengevaluasi”, mereka secara otomatis harus memikirkan tindakan konkret yang akan mereka lakukan:
- Apakah riset saya hanya sampai tahap Deskripsi (C1/C2), atau harus sampai tahap Analisis (C4), atau bahkan Evaluasi/Kreasi (C5/C6) berdasarkan Taksonomi Bloom yang direvisi?
- Jika saya pakai “Menganalisis”, berarti saya harus menggunakan alat analisis (statistik, analisis wacana, dll.) dan Bab IV saya harus berisi Analisis, bukan sekadar hasil temuan.
3. Konsistensi dengan Rumusan Masalah dan Hasil
Penggunaan KKO yang spesifik menciptakan konsistensi yang jelas:
- Rumusan Masalah: “Bagaimana efektivitas model A dalam meningkatkan B?”
- Tujuan Penelitian: “Untuk mengevaluasi efektivitas model A dalam meningkatkan B.”
- Hasil/Kesimpulan: Menyajikan Hasil Evaluasi (bukan sekadar “Telah diketahui bahwa…”)
💬 Penggunaan Kalimat Aktif vs. Pasif
Anda juga menyentuh poin menarik mengenai kalimat aktif dan pasif:
| Jenis Kalimat | Contoh (KKO Spesifik) | Kelebihan |
| Aktif (Direkomendasikan) | “Untuk menganalisis hubungan X dan Y.” | Lebih tegas, lugas, dan secara eksplisit menunjukkan tindakan peneliti. Ini adalah gaya yang paling umum dan kuat dalam tulisan ilmiah modern. |
| Pasif (Alternatif Menarik) | “Agar dapat dianalisis hubungan X dan Y.” | Memberi penekanan pada objek atau hasil yang akan didapatkan, bukan pada subjek (peneliti). Dapat memberikan variasi yang segar, asalkan konsisten. |
Kesimpulan: Mengubah dari “Untuk mengetahui” menjadi KKO yang lebih tinggi (menganalisis, mengevaluasi, merancang) adalah tren positif yang sudah mulai dipraktikkan di berbagai perguruan tinggi maju. Hal ini tidak hanya masalah gaya, tetapi esensi dari metodologi riset yang kuat.
